Bendera Tauhid Diinvestigasi, Korupsi Dibiarkan

Opini dan Feature
Bagikan

Foto : Internet


Oleh : Masitha
Berprofesi sebagai guru


Istilah bendera tauhid sudah tidak asing lagi ditelinga. Setelah beberapa waktu lalu sempat dihebohkan dengan adanya pembakaran bendera tauhid oleh salah satu oknum yang berakhir dengan aksi bela tauhid. Kini umat digegerkan dengan munculnya foto siswa –siswi madrasah yang mengibarkan bendera tauhid.

Foto yang dimaksud memperlihatkan sekelompok siswa berada di lapangan sekolah. Mereka mengibarkan bendera ar Rayah dan al Liwa. Adapula yang membawa bendera merah putih, terlihat ada tulisan “MAN 1 Sukabumi” disalah satu bendera lainnya. (detikNews) Mengetahui hal ini, Menteri agama Lukman Hakim Saifuddin meminta agar pengibaran bendera tauhid itu diinvestigasi. “Sejak semalam sudah ada tim khusus dari pusat yang ke lokasi untuk investigasi.

Saat ini proses penanganan di lapangan masih berlangsung. Kami serius menangani kasus ini. Akhirnya diketahui bendera bertuliskan kalimat tauhid itu dibawah salah satu sekolah bernama “Keluarga Remaja Islam Majelis Al Ikhlas atau KARISMA pada Jum’at (19/7/2019). “Bagaikan kebakaran jenggot” para pejabat negara ini mendengar perihal pengibaran bendera ini dan segera mengusut kasus tersebut. Sepertinya kasus ini adalah kasus yang sangat urgent dan berbahaya.

Padahal kasus ini tidak mengancam nyawa atau berbahaya bagi orang lain. Lalu apa kabar dengan kasus korupsi, pelecehan seksual, pembunuhan dan lainnya? Sejatinya bendera hitam dan putih yang bertuliskan kalimat tauhid atau dikenal juga dengan Al-Liwa dan Ar-Royah.

Dalam sejarah Islam, bendera ini lebih dikenal dengan bendera Rasulullah Saw. “Panjinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berwarna hitam, dan benderanya (Liwa) berwarna putih, tertulis di dalamnya: “Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah”.” (HR. Ath-Thabrani). Mencegah dan mewaspadai penyebaran paham radikal tentu merupakan tugas Kementerian Agama. Segala upaya dan usaha yang dikerahkan patut diapresiasi.

BACA JUGA  Kesehatan Mahal, Bukti Negara Abai Terhadap Rakyat

Tapi itu bukan tugas utama apalagi sampai membuat tim khusus. Pak menteri tahu mengenai skala prioritas amar ma’ruf nahi Munkar. Sebelum memberantas kemungkaran yang berada di luar, alangkah baiknya kalau memberantas kemungkaran yang ada di dalam terlebih dahulu. Diantara sejumlah kementerian, kementerian agama adalah salah satu kementerian yang belakangan ini banyak disebut sebut.

Bukan karena segudang prestasi, tetapi karena berbagai kabar buruk yang meliputinya. Mulai dari korupsi penggandaan kitab suci Al-Qur’an, penyalahgunaan dana haji, hingga yang teranyar kasus jual beli jabatan di kemenag yang membuat mantan ketua partai PPP Muhammad Romahurmuziy harus ditangkap.

Banyaknya persoalan yang terjadi ditengah masyarakat saat ini, itu tidak terlepas dari adanya kesesatan berfikir oleh rezim saat ini. Menerapkan sistem sekuler dimana urusan negara dipisahkan dari urusan agama. Dimana tolok ukur baik buruk, terpuji tercela, halal haram tidak berdasarkan pada hukum Syara’, tetapi berdasarkan pada asas manfaat. Bahkan selama ini persoalan agama malah sangat dibenci dan dimusuhi.

Maka tidak heran muncul sikap islamophobia terhadap ajaran Islam. Islamophobia itu membuat mereka memusuhi apa saja yang mereka nilai menjadi bagian dari ekspresi keislaman. Tentu islamophobia itu tidak selayaknya muncul dari seorang muslim. Keimanan yang bersemayam dalam diri seorang muslim sejatinya melahirkan takwa. Baik secara lahir maupun batin.

BACA JUGA  Produksi Film Berbalut Liberalisasi

Secara lahir antara lain tampak dari sikapnya yang mengagungkan syiar-syiar Islam. Firman Allah SWT yang artinya “demikianlah (perintah Allah). Siapa saja yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sungguh itu timbul dari ketakwaan hati (TQS. Al-Hajj :32). Begitulah sikap mengagungkan syiar syiar Allah, yakni syiar dan ajaran islam, juga simbol dan berbagai ekspresi keislaman, hanyalah cerminan ketakwaan dan kecintaan pada Islam yang terkandung didalam hati. Begitulah semestinya sikap seorang muslim.

Sikap mencemooh hijab, mencurigai semangat hijrah dengan radikal, alergi terhadap khilafah, bahkan mengkriminalisasi Panji Rasulullah Saw. Al Liwa dan Ar-Royah. Dan sikap-sikap islamophobia lainnya jika tampak dari seorang muslim semua itu justru menampakkan hakikat yang tersembunyi didalam hati.

Pepatah mengatakan (bejana hanya bisa menumpahkan apa yang ada di dalamnya), boleh jadi begitulah Allah berkehendak menampakkan jati diri kemunafikan yang tersembunyi. Sikap yang harus dibangun dan ditunjukkan oleh seluruh umat Islam tidak lain adalah memenuhi perintah Allah SWT. Dalam firman-nya. “Hai orang orang yang beriman, masuklah kalian kedalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS Al Baqarah 2:208) Ini adalah perintah dari Allah kepada semua mukmin untuk mengambil dan mengamalkan semua ajaran Islam dan syariat nya, mengagungkan syiar- syiarnya sebagai wujud totalitas kecintaan kepada Allah SWT.

Saat ini banyak orang yang tidak menyesal sedikit pun saat telah melakukan banyak dosa, bahkan dosa besar misalnya: berzina, makan riba, berbohong, menebar janji, curang, zalim terhadap rakyat, tidak adil memutuskan hukum. Mereka melakukan itu tanpa merasa berdosa padahal penyesalan, meski terlambat tetap lah berguna.

BACA JUGA  SISTEM SEKULER LAHIRKAN GENERASI KEBLINGER

Beratnya tanggungjawab dihadapan Allah, baik itu tanggungjawab kepada diri sendiri, keluarga, bahkan tanggungjawab penguasa di hadapan Allah tatkala tidak menjadikan hukum Syara’ sebagai standar perbuatan. Dalam hal kepemimpinan, Islam sangat menjunjung tinggi suatu amanah, dimana amanah itu adalah tugas dan tanggungjawab yang bukan hanya dipertanggungjawabkan dihadapan manusia di dunia tetapi juga dihadapan Allah di akhirat kelak.

Pelaksanaan syariat memang membutuhkan kepemimpinan. Kepemimpinan tanpa syariat akan kehilangan arah. Seperti itulah yang telah ditetapkan oleh Rasulullah di Madinah dan kemudian dilanjutkan oleh para sahabat yang menjadikan Al Qur’an dan As-Sunah sebagai tolok ukur dalam menimbang dan menjalankan amanahnya didalam memimpin bangsa dan negara.

Oleh karena itu, kita sebagai umat islam yang taat harus bersama-sama memperjuangkan syariat islam agar keberkahan hidup dan keridhoan Allah dapat kita raih yaitu dengan menerapkan sistem islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bi ash showwab


Bagikan